Indonesia Updates
KediriBeritaJawa TimurNasional

Hasil Uji Lab Keracunan Massal di Kediri: Produk Mengandung Bakteri Bacillus cereus

×

Hasil Uji Lab Keracunan Massal di Kediri: Produk Mengandung Bakteri Bacillus cereus

Sebarkan artikel ini
Image Credit Anis Firmansah/Beritasatu - Ketua Tim Pemeriksaan BPOM Kediri, Tito veriyanto, seusai pengungkapan kasus keracunan massal di Mako Polres Kediri, Jumat, 11 Oktober 2024.
Image Credit Anis Firmansah/Beritasatu - Ketua Tim Pemeriksaan BPOM Kediri, Tito veriyanto, seusai pengungkapan kasus keracunan massal di Mako Polres Kediri, Jumat, 11 Oktober 2024.

INDONESIAUPDATES.COM, NASIONAL – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengungkapkan hasil laboratorium terkait kasus keracunan massal yang terjadi di Desa Krecek, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Berdasarkan hasil pengujian, produk makanan dan minuman yang dikonsumsi para korban ternyata positif mengandung bakteri Bacillus cereus, yang dikenal sebagai penyebab keracunan makanan.

Ketua Tim Pemeriksaan BPOM Kediri, Tito Veriyanto, menyampaikan bahwa dari enam sampel produk yang diuji di Balai Besar POM Surabaya, semuanya terbukti mengandung bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini dapat memicu gejala keracunan dalam waktu singkat, yakni sekitar 30 menit setelah dikonsumsi. Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah, dan pusing.

“Hasil pengujian dari keenam sampel positif mengandung Bacillus cereus, yaitu bakteri yang bisa menyebabkan keracunan,” ujar Tito dalam keterangannya di Markas Polres Kediri pada Jumat (11/10/2024).

Gejala Cepat Timbul

Menurut Tito, gejala keracunan yang dialami para korban sesuai dengan karakteristik dari bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini dapat berkembang biak dalam makanan yang tidak disimpan dengan baik atau produk yang sudah kedaluwarsa. Dalam kasus ini, para korban dilaporkan mulai merasakan gejala hanya dalam waktu kurang dari setengah jam setelah mengonsumsi produk yang terkontaminasi.

“Korban yang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung bakteri ini akan merasakan gejala keracunan tidak lebih dari 30 menit setelah mengonsumsinya,” jelas Tito.

Kasus keracunan massal ini merupakan yang pertama dengan jumlah korban mencapai 155 orang di Kabupaten Kediri. Peristiwa ini terjadi saat warga menghadiri acara selawatan di Desa Krecek pada Selasa malam, 1 Oktober 2024. Banyak dari korban yang dilarikan ke rumah sakit setelah merasakan gejala keracunan.

Imbauan dan Tindakan Lanjut

Menyikapi kasus ini, Tito mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada saat membeli atau mengonsumsi produk makanan dan minuman. Masyarakat diminta untuk memperhatikan tanggal kedaluwarsa dan kondisi produk sebelum mengonsumsinya, terutama produk yang dibeli dari pasar tradisional atau tempat yang tidak terjamin kebersihannya.

“Alhamdulillah, bakteri ini sifatnya tidak menetap, jadi kalau sudah diobati dengan benar, pasien akan sembuh,” tambah Tito, menenangkan warga yang khawatir.

Selain itu, Polres Kediri juga mengambil langkah tegas dengan mengamankan 30 truk berisi produk makanan dan minuman yang sudah kedaluwarsa dari sebuah gudang di Desa Krecek. Gudang tersebut dimiliki oleh seorang pengusaha berinisial AFF, yang diduga kuat terkait dengan penyebab keracunan massal ini. Penyidikan lebih lanjut tengah dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengungkap lebih jauh mengenai peredaran produk berbahaya tersebut.

BACA :   BREAKING NEWS: Pelajar Tetap Masuk Sekolah Selama Ramadan, Libur Full Dibatalkan!

Penutupan Gudang dan Investigasi Lanjutan

Kapolres Kediri, AKBP Bimo Ariyanto, memimpin langsung penggeledahan di gudang yang berlokasi di Desa Krecek. Di lokasi tersebut, polisi menemukan berbagai produk makanan dan minuman yang sudah tidak layak konsumsi dan telah melewati masa kedaluwarsa. Barang-barang ini diduga masih diperdagangkan, sehingga menimbulkan risiko besar bagi kesehatan masyarakat.

“Dengan penemuan ini, kami akan terus mendalami penjualan produk-produk ini ke masyarakat, dan siapa saja yang terlibat dalam peredarannya,” ujar AKBP Bimo.

Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan jika menemukan produk makanan atau minuman yang mencurigakan atau sudah kedaluwarsa di sekitar mereka. Kerjasama dari masyarakat sangat penting untuk mencegah terjadinya kasus serupa di masa mendatang.

Kasus keracunan massal ini menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama dalam hal keamanan pangan. Pengawasan yang ketat terhadap produk makanan dan minuman yang beredar di pasar sangat diperlukan guna melindungi kesehatan masyarakat.


Pertanyaan Umum : FAQ (Frequently Asked Questions) terkait kasus keracunan massal di Kediri:


1. Apa yang menyebabkan keracunan massal di Kediri?

Kasus keracunan massal di Desa Krecek, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, disebabkan oleh konsumsi produk makanan dan minuman yang mengandung bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini ditemukan dalam enam sampel produk yang diuji oleh BPOM.

2. Apa itu bakteri Bacillus cereus?

Bacillus cereus adalah bakteri yang umumnya ditemukan dalam produk makanan yang telah terkontaminasi. Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan pusing dalam waktu singkat setelah dikonsumsi.

3. Gejala apa saja yang dialami oleh korban keracunan?

Korban yang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi Bacillus cereus mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, dan terkadang diare. Gejala tersebut muncul dalam waktu 30 menit setelah konsumsi.

4. Berapa jumlah korban dalam kasus keracunan ini?

Terdapat 155 orang yang menjadi korban dalam kasus keracunan massal ini. Para korban mengalami gejala keracunan setelah menghadiri acara selawatan di Desa Krecek, Kediri.

BACA :   Polres Serang Berhasil Ungkap Sindikat Perdagangan Narkoba Jaringan Internasional

5. Apakah bakteri Bacillus cereus berbahaya?

Bakteri ini bisa menyebabkan keracunan makanan, namun umumnya tidak mengancam nyawa jika ditangani dengan tepat. Dengan pengobatan yang baik, kebanyakan korban dapat pulih sepenuhnya karena bakteri ini tidak bersifat menetap dalam tubuh.

6. Apa yang dilakukan BPOM dan pihak berwenang untuk menangani kasus ini?

BPOM melakukan uji laboratorium terhadap sampel produk yang diduga menjadi penyebab keracunan. Pihak Polres Kediri juga menggeledah gudang milik AFF yang berisi produk makanan dan minuman kedaluwarsa yang diduga menjadi sumber kontaminasi.

7. Apa yang ditemukan di gudang milik AFF?

Di gudang tersebut, polisi menemukan 30 truk berisi produk makanan dan minuman yang sudah kedaluwarsa. Produk-produk ini diduga masih diedarkan kepada masyarakat meskipun tidak layak konsumsi.

8. Apa langkah yang harus diambil masyarakat untuk mencegah keracunan makanan?

Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa kondisi produk dan memastikan tanggal kedaluwarsa sebelum mengonsumsi makanan dan minuman. Selain itu, penting untuk membeli produk dari tempat yang terpercaya dan memastikan penyimpanannya dilakukan dengan baik.

9. Apakah kasus keracunan massal seperti ini sering terjadi?

Kasus keracunan massal di Kediri ini merupakan yang pertama kali terjadi dengan jumlah korban yang signifikan di Kabupaten Kediri. Kasus ini menjadi peringatan penting bagi keamanan pangan.

10. Bagaimana cara melaporkan produk makanan dan minuman yang mencurigakan?

Masyarakat dapat melaporkan produk makanan atau minuman yang mencurigakan atau sudah kedaluwarsa kepada pihak berwenang seperti BPOM atau kepolisian setempat untuk tindakan lebih lanjut.

11. Apakah korban keracunan bisa sembuh total?

Ya, mayoritas korban dapat sembuh total setelah mendapatkan pengobatan yang tepat. Bacillus cereus tidak bersifat menetap dalam tubuh, sehingga efek keracunannya bisa hilang setelah perawatan.

12. Apakah produk yang terkontaminasi hanya berasal dari satu tempat?

Saat ini, produk yang diduga menyebabkan keracunan massal berasal dari gudang milik AFF di Desa Krecek. Investigasi lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan apakah ada sumber lain yang terlibat.


IKUTI INDONESIAUPDATES.COM DI GOOGLE NEWS


 

Image Credit AP - Anggota tim pencarian dan penyelamatan China memindahkan seorang korban dari gedung yang runtuh setelah gempa Myanmar di Mandalay, Senin, 31 Maret 2025.
Myanmar

INDONESIAUPDATES.COM, INTERNASIONAL – Myanmar mengumumkan masa berkabung nasional selama sepekan, mulai Senin (31/3/2025), menyusul gempa bumi dahsyat yang mengguncang negara tersebut. Gempa bermagnitudo (M) 7,7 yang terjadi pada Jumat (28/3/2025)…