Gowa, Sulawesi Selatan – Seni wayang Potehi, salah satu warisan budaya Tiongkok yang masuk ke Indonesia sejak abad ke-17, kini semakin langka ditemukan. Namun, David Aritanto, seorang mualaf keturunan Tionghoa asal Kabupaten Gowa, tetap setia menjaga tradisi ini di tengah tantangan zaman.
Di rumahnya yang sederhana di Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Sulawesi Selatan, David merawat perlengkapan pertunjukan wayang Potehi dengan penuh dedikasi. Boneka-boneka kayu, panggung mini, hingga alat musik tradisional seperti Piak-Kou tersusun rapi, menanti untuk dimainkan kembali.
“Wayang Potehi bukan hilang, hanya butuh perhatian lebih. Tantangannya besar, terutama soal biaya dan kurangnya minat generasi muda,” ungkap David saat ditemui pada Senin (27/1/2025).
Apa Itu Wayang Potehi?
Wayang Potehi berasal dari kata “Pou” (kain), “Te” (kantong), dan “Hi” (wayang), sehingga dapat diartikan sebagai “wayang boneka dari kantong kain.” Pertunjukan ini dimainkan dengan cara memasukkan tangan ke dalam boneka dan menggerakkannya menggunakan tiga jari.
David menjelaskan, setiap tokoh wayang memiliki beberapa karakter. Misalnya, Dewa Naga Laut memiliki wayang berbeda untuk menampilkan ekspresi tertawa dan marah, sehingga satu tokoh bisa memerlukan hingga belasan boneka.
Perjuangan di Tengah Kemajuan Teknologi
Dahulu, wayang Potehi kerap dimainkan di klenteng menjelang perayaan Imlek, bahkan berlangsung selama 14 hari berturut-turut. Kini, tradisi itu mulai memudar, terutama di Pulau Jawa yang dulunya menjadi pusat seni Potehi.
“Semua butuh biaya. Untuk satu pertunjukan saja, perlengkapannya sangat banyak dan tidak murah. Ditambah lagi, anak muda sekarang lebih tertarik pada teknologi daripada seni tradisional,” jelasnya.
Namun, semangat David tidak pernah surut. Ia terus mencari cara agar wayang Potehi tetap hidup, meski hanya melalui latihan kecil atau pertunjukan lokal.
Melestarikan Warisan Budaya
Selain menghadirkan nuansa budaya Tiongkok abad ke-17 melalui boneka dan kostum yang autentik, David juga menggunakan pertunjukan wayang Potehi sebagai media untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama.
“Seni ini bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang sejarah, budaya, dan persatuan. Kalau kita tidak menjaga, siapa lagi?” tegas David.
Di tengah usianya yang tak lagi muda, David Aritanto menjadi bukti nyata bahwa cinta pada budaya mampu melampaui segala rintangan. Ia berharap, suatu hari wayang Potehi kembali bersinar dan menjadi bagian dari kebanggaan budaya Indonesia.
IKUTI INDONESIAUPDATES.COM
GOOGLE NEWS | WHATSAPP CHANNEL