Indonesia Updates
CirebonBeritaJawa BaratNasional

Depresi Berat, Bocah 13 Tahun di Cirebon Berhenti Sekolah Usai HP Dijual Ibunya

×

Depresi Berat, Bocah 13 Tahun di Cirebon Berhenti Sekolah Usai HP Dijual Ibunya

Sebarkan artikel ini
Image Credit Candra Kurnia/Beritasatu.com - Arya Randi Pratama, bocah berusia 13 tahun di Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, mengalami depresi berat, setelah handphone (HP) miliknya dijual oleh Ibunya.
Image Credit Candra Kurnia/Beritasatu.com - Arya Randi Pratama, bocah berusia 13 tahun di Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, mengalami depresi berat, setelah handphone (HP) miliknya dijual oleh Ibunya.

INDONESIAUPDATES.COM, NASIONAL  – Seorang bocah berusia 13 tahun di Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat, mengalami depresi berat setelah handphone (HP) miliknya dijual oleh sang ibu. Akibat depresi yang dialaminya, Arya Randi Pratama, nama sang bocah, bahkan sampai berhenti sekolah.

Diketahui, Arya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Alifyanto dan Siti Anita. Sang ibu terpaksa menjual HP anaknya itu untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Waktu itu saya bingung, saya enggak kerja, enggak jualan, terus suami waktu itu selama delapan bulan enggak kasih nafkah, saya bingung, jadi ada barang itu (HP) saya jual untuk makan sehari-hari,” ungkap Siti Anita saat ditemui di kediamannya, Senin (13/5/2024).

Siti mengatakan, HP yang dimiliki Arya merupakan jerih payahnya sendiri dari hasil menabung. “Itu barang punya dia sendiri, hasil menabung sendiri, tetapi saya izin dulu pas mau saya jual. Aa, mamah pinjem ya, nanti mamah balikin kalau sudah ada uang, dia bilang boleh,” katanya.

Namun setelah Siti menjual HP miliknya, perubahan sikap Arya mulai terlihat. Ia jadi sering melamun dan enggan untuk melanjutkan sekolahnya.

“HP itu biasa dia pakai buat main games, seumuran segitu masih suka main games, juga dipake belajar seperti kaya waktu zaman Covid, pake HP itu,” tambahnya.

Akibat depresi yang dialaminya, Arya bahkan pernah mengamuk di sekolahnya.

BACA :   Ucapan Selamat Iduladha Presiden Turki Erdogan dan Harapan untuk Perdamaian di Palestina dan Sudan

“Saya kepingin anak saya normal kembali, Arya sembuh, Arya bisa sekolah lagi, bisa main lagi kaya anak-anak yang lain,” harap Siti.

Sementara itu, Kepala Bidang SD dan SMP Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Ade Cahyaningsih, memaparkan, Arya merupakan seorang siswa yang rajin dan baik saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolahnya.

“Menurut cerita dari RT dan RW, anak ini mengumpulkan uang untuk membeli HP ini dari hasil menabungnya sendiri, anaknya baik, kecerdasannya juga bagus mulai dari kelas 1 hingga kelas 6,” ujarnya.

Ade mengatakan, penyebab depresi yang dialami oleh Arya, diduga karena ia tidak bisa meluapkan kesedihannya.

“Jadi memang permasalahan ini bermula dari penjualan HP oleh ibunya. Kami juga tidak bisa menyalahkan, karena mungkin kesedihan anak ini tidak bisa keluar, karena anak ini pendiam,” katanya.

Saat ini Dinas Pendidikan Kota Cirebon tengah fokus mengobati kesehatan Arya dengan terapi, agar ia dapat kembali normal seperti anak pada umumnya.

“Anak ini punya kartu Indonesia pintar, dan PIP. Dinsos memberikan PKH, dari kelurahan juga ada swadaya yang diberikan, hanya penanganannya butuh terapi, karena ini sifatnya dadakan dan harus jangka panjang, agar anak ini bisa seperti sedia kala,” tutupnya.

Kisah Arya Randi Pratama merupakan contoh bagaimana masalah keuangan keluarga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak. Penting bagi orang tua untuk mencari solusi yang tepat dalam mengatasi kesulitan keuangan tanpa harus mengorbankan kebahagiaan anak.

BACA :   Bayi 3 Bulan Meninggal Usai Imunisasi di Sukabumi, Diduga Malapraktik: Keluarga Laporkan ke Polisi